Sabtu, 16 Juni 2012

Sejarah huruf A sampai Z

Posted by Jihan Hafara di Sabtu, Juni 16, 2012
Huruf A

A adalah huruf pertama dalam alfabaet Latin. Dalam bahasa inggris huruf ini dibaca [ei]; bentuk jamakaes . Huruf ini berasal dari huruf Yunani A (alfa) dan sering digunakan sebagai lambang vokal depan terbuka tak bulat. A juga sering digunakan sebagai indikasi sesuatu yang berarti "awal" atau "terbaik". 

Sejarah
Huruf A dapat ditelusuri ke sebuah piktogram kepala seekor sapi jantan dalam hieroglif Mesir atau abjad Proto-Sinaitik. Awalnya, gabungan konsonan / ks / dalam bahasa Yunani Kuno ditulis sama, sebagai Khi Χ (dialek Barat) atau Ksi Ξ (dialek Timur). Akhirnya, Khi digunakan untuk bunyi / k ʰ / (/ x / dalam bahasa Yunani Modern), sementara Ksi digunakan untuk suara / ks /. Orang Etruska merebut Χ dari dialek Yunani Barat Kuno; maka, X mewakili suara / ks / dalam bahasa Etruska dan Latin. Tidak diketahui apakah huruf Khi dan Ksi merupakan ciptaan orang Yunani, atau berasal dari rumpun bahasa Semit.








Hieroglif Mesir 
"kepala sapi" →
Proto-Semitik'alp Fenisiaalef Yunani Kunoalfa 
Yunani Modernalfa 
Etruska 
A  
Latin Kuno 
A  
Latin Modern 
A

Sekitar tahun 1600 SM huruf dalam abjad Fenisia memiliki bentuk linear yang menjadi dasar untuk bentuk-bentuk berikutnya. Namanya tampaknya sangat erat berkaitan dengan alef dalam abjad Ibrani.

Ketika bangsa Yunani kuno mengadopsi abjad, mereka tidak menggunakan konsonan celah suara (bunyi hamzah) yang dikandung huruf ini dalam bahasa Fenisia dan bahasa-bahasa Semit lainnya, karena itu mereka menggunakan tanda ini untuk vokal / a /, dan mempertahankan namanya dengan perubahan kecil ( alfa). Dalam prasasti-prasasti Yunani yang paling awal setelah Zaman Kekelaman Yunani, yang terjadi pada abad ke-8 SM, huruf ini dituliskan terbaring, tetapi dalam alfabet Yunani berikutnya, huruf ini pada umumnya mirip dengan huruf besar A modern, meskipun berbagai variasi setempat dapat dibedakan dengan memperpendek salah satu kakinya, atau dengan sudut tempat garis melintang diletakkan. Bangsa Etruska membawa alfabet Yunani ke dalam peradaban mereka di Jazirah Italia dan membiarkan huruf ini tidak berubah. Kemudian orang-orang Romawi mengadopsi alfabet Etruska untuk menulis bahasa Latin, dan huruf yang dihasilkan kemudian dilestarikan dalam alfabet Latin modern yang digunakan untuk menulis banyak bahasa, termasuk bahasa Inggris.

Huruf B B adalah huruf kedua dalam alfabet Latin. Dalam bahasa Latin dan bahasa lain pada umumnya (termasuk bahasa Indonesia), huruf ini biasanya melambangkan konsonan dwibibir, khususnya fonem [b], konsonan letup dwibibir bersuara.



Sejarah
Hieroglif Mesir 
"denah rumah" →
Proto-Semitbet Fenisiabeth Yunani Kunoalfa 
Yunani Modernalfa 
Etruska 
A  
Latin Kuno 
A  
Latin Modern 
A

Huruf B berasal dari sebuah piktogram denah sebuah rumah dalam karakter hieroglif Mesir atau karakter Proto-Sinaitik. Sekitar tahun 1050 SM, huruf itu dikembangkan dalam abjad Fenisia menjadi bentuk linear dan bernama beth. 


Huruf C C adalah huruf ketiga dalam alfabet Latin. Dalam bahasa Indonesia, huruf ini disebut ce sedangkan dalam bahasa Inggris disebut cee, dibaca [si ː]. Dalam bahasa Latin, huruf ini melambang fonem / k /, konsonan letup langit-langit belakang tak bersuara, sedangkan dalam bahasa Indonesia dan Melayu huruf ini melambangkan fonem / t ͡ ʃ /, konsonan gesek pascarongga-gigi tak bersuara.



Sejarah

<C> Dan <G> berasal dari huruf yang sama. Bangsa Semit menyebutnya gimel (Arab: jim). Lambangnya diadaptasi dari hieroglif Mesir yang berbentuk umban tongkat, yang mungkin merupakan arti dari nama gimel itu sendiri. Kemungkinan lainnya adalah lambang itu menggambarkan unta, yang dalam rumpun bahasa Semit disebut gamal.


Proto-Semitgaml Fenisia gimelYunani Kunogama 
Yunani Moderngama 
Etruska 
 
Latin Kuno
 
Latin Modern 
C

Dalam bahasa Etruska, konsonan letup (eksplosif) tidak memiliki penyuaraan kontrastif, jadi huruf Yunani Γ (Gamma) diadaptasi ke dalam alfabet Etruska untuk mewakili fonem / k /. Pun dalam Alfabet Yunani Barat, mulanya Gamma mengambil bentuk Early Etruscan C.gif dalam alfabet Etruska Awal, kemudian Classical Etruscan C.gif dalam Etruska Klasik. Selanjutnya dalam bahasa Latin huruf itu mengambil bentuk C pada alfabet Latin klasik. Huruf Latin Awal menggunakan C untuk konsonan / k / dan / ɡ /, tetapi selama abad ketiga SM, satu huruf yang diubah, telah diperkenalkan sebagai lambang bunyi / ɡ /, dan C sendiri diatur untuk melambangkan bunyi / k /. Penggunaan huruf C (dan variasinya yaitu G) menggantikan sebagian besar penggunaan K dan Q. Oleh karena itu, pada masa kuno dan sesudahnya, G telah dikenal setara secara fonetik dengan Gamma, dan C sama dengan Kappa, dalam alih aksara kata-kata Yunani ke dalam ejaan Latin, seperti pada kata KAΔMOΣ, KYPOΣ, ΦΩKIΣ, dalam surat -surat Romawi ditulis CADMVS, CYRVS, PHOCIS. Karakter lain memiliki huruf-huruf mirip dengan bentuk C tetapi tidak sama dalam penggunaan dan asal mulanya, khususnya huruf Sirilik Es, yang berasal dari suatu bentuk huruf Yunani sigma, dikenal sebagai "lunar sigma" karena bentuknya menyerupai bulan sabit. 

Huruf D D adalah huruf keempat dalam alfabet Latin. Dalam bahasa Indonesia disebut de (dibaca ['de]), sedangkan dalam bahasa Inggris dan Melayu disebut dee (dibaca [di ː]). Dalam bahasa Latin dan bahasa Indonesia, huruf ini melambangkan fonem / d /, konsonan letup rongga-gigi bersuara.


Sejarah

Huruf Semitik Dâlet kemungkinan besar berkembang dari logogram yang berarti "ikan" atau "pintu". Ada berbagai hieroglif Mesir yang mungkin mengilhaminya. Dalam bahasa Semitik, Yunani Kuno, dan Latin, huruf ini melambangkan konsonan / d /; dalam huruf Etruska pula huruf ini seolah-olah tidak diperlukan, tetapi masih dilestarikan (lihat huruf B). Huruf Yunani yang setara dengannya adalah: Δ (besar) atau δ (kecil) (Delta).


Hieroglif Mesir 
"pintu" →
Proto-Semitdigg Fenisiadaleth 
Yunani Kunodelta 
Yunani Moderndelta 
Etruska 
 
Latin Kuno 
 
Latin Modern 
D

Bentuk huruf kecil "d", yang terdiri dari satu lekukan dan satu garis vertikal yang tinggi, berkembang dari perubahan bervariasi pada bentuk huruf besar "D". Dalam penulisan pada zaman dahulu adalah suatu kelaziman untuk memulai lekukan pada kiri garis vertikal, sehingga menghasilkan suatu serif di atas lekukan itu. Serif ini terhubung sedangkan bagian lain huruf ini dikurangi, menghasilkan suatu tangkai bersudut dan lengkungan. Kemudian tangkai bersudut ini berubah menjadi tangkai vertikal. 

Huruf E E adalah huruf Latin yang kelima .Dalam bahasa Inggris, namanya dibaca [i:]. Huruf E paling banyak digunakan dalam bahasa Inggris.


Sejarah

E diperoleh dari huruf Yunani epsilon yang kira-kira identik bentuknya (Ε, ε) dan fungsinya. Menurut etimologi, huruf he Semitik kemungkinan melambangkan bentuk manusia yang shalat atau bersorak (hillul, 'kegembiraan'), dan juga mungkin berdasarkan suatu hieroglif Mesir yang serupa bentuknya tetapi berbeda bunyi dan kegunaannya. Dalam abjad Semit, huruf ini mewakili bunyi / h / (dan / e / dalam kata asing), dalam bahasa Yunani he menjadi Εψιλον (Epsilon) yang mewakili bunyi / e /.


Hieroglif Mesir 
"kegembiraan" →
Proto-Semit hawFenisia he
Yunani Modern epsilon
Etruska 
 
Latin Kuno 
 
Latin Modern 
E

Orang-orang Etruska dan Romawi Kuno juga menggunakan huruf ini sedemikian, maka munculah huruf Romawi "E". Meskipun bahasa Inggris pertengahan menggunakan E sebagai lambang bunyi / e / panjang dan pendek, oleh sebab Transisi Vokal Besar-besaran, kegunaannya dalam bahasa Inggris agak berbeda.Bunyi / e ː / (dalam "me" atau "bee") menjadi / i ː /, sementara / e / pendek (seperti bed) bertahan sebagai vokal madya. 

Huruf F F adalah huruf Latin ke-6. Namanya dalam bahasa Inggris, Indonesia, dan Melayu adalah ef , dibaca [ɛf].Huruf ini sering digunakan untuk menandai bunyi konsonan desis bibir-gigi nirsuara.


Sejarah


Proto-Semit wawFenisia waw
Yunani Kuno digama
  
Yunani Modern digama
Etruska 
 
Latin Modern 
F

Asal-usul huruf F dimulai dari huruf Semitik vâv yang melambangkan bunyi / v /, dan kemungkinan mulanya menggambarkan "kait" atau "gada". Huruf vâv mungkin juga terbentuk berdasarkan suatu hieroglif Mesir, yang menggambarkan "gada":




Dalam bahasa Etruska, F juga diucapkan / w /. Pada akhirnya orang Etruska mengajukan satu inovasi yaitu menggunakan dwihuruf FH untuk bunyi / f /, dan huruf F mewakili fonem / f / saat orang Romawi menyerapnya (karena mereka sudah meminjam huruf U dari huruf Yunani upsilon untuk bunyi / w /).Huruf phi (Φ φ) ini menyamai bunyi / f / dalam bahasa Yunani. Huruf kecil f tidak bisa diidentikkan dengan huruf s, yaitu s panjang yang digunakan pada zaman dahulu. Misalnya, "sinfulness" ditulis "sinfulness" saat memakai huruf s panjang. Penggunaan huruf s panjang memudar menjelang akhir abad ke-19, kemungkinan untuk menghindari kekeliruan dengan huruf f. 

Huruf G Huruf G atau g adalah huruf ke-7 dalam alfabet Latin. Dalam bahasa Indonesia dan Melayu, huruf G mewakili konsonan letup langit-langit belakang bersuara (/ ɡ /).Huruf G juga digunakan dalam dwihuruf "ng" untuk konsonan sengau langit-langit belakang (/ N /).Dalam bahasa Inggris, huruf G digunakan untuk konsonan letup langit-langit belakang bersuara dan juga konsonan gesek pascarongga-gigi bersuara (/ dʒ /).


Sejarah

Huruf G diperkenalkan pada zaman Latin Kuno sebagai suatu bentuk lain untuk huruf C untuk membedakan konsonan langit-langit belakang bersuara (/ ɡ /) dengan yang tidak bersuara (/ k /).


Proto-Semitgaml Fenisia gimelYunani Kunogama 
Yunani Moderngama 
Etruska 
 
Latin Kuno
 
Latin Modern 
G

Orang pertama yang diketahui menulis huruf G adalah Spurius Carvilius Ruga, orang Romawi pertama yang membuka sekolah berbayar, dan mengajar sekitar 230 SM. Ketika itu, huruf K makin kurang dipakai, sedangkan huruf C yang mulanya mewakili suara / ɡ / dan / k / sebelum suara vokal terbuka, kemudian hanya mewakili bunyi / k / dalam setiap posisi. Penempatan G oleh Ruga menunjukkan bahwa urutan alfabet, yang terkait dengan nilai huruf itu sebagai angka Yunani, menarik perhatian pada abad ke-3 SM. Sampson (1985) berpendapat bahwa: "Jelas sekali bahwa susunan alfabet dirasakan sebagai perihal yang begitu konkrit sehingga suatu huruf baru bisa ditambahkan di tengah susunan hanya jika ada 'ruang' setelah menggeser huruf yang lama." [1] Menurut beberapa catatan, huruf ketujuh sebelumnya, yaitu Z, disingkirkan dari alfabet Latin pada awal abad ke-3 SM oleh seorang censor Romawi, Appius Claudius, yang merasa huruf itu terpisah dan tidak penting. Tidak lama kemudian, kedua konsonan langit-langit belakang / k / dan / ɡ / mengalami proses palatalisasi dan alofon sebelum vokal di depan; maka dari itu, huruf C dan G memiliki nilai bunyi berbeda dalam rumpun bahasa Roman, dan juga bahasa Inggris (akibat pengaruh bahasa Perancis). Huruf g kecil memiliki dua bentuk dasar yang berbeda: "g berekor terbuka " dan "g berekor melingkar" 

Huruf H H adalah huruf ke-8 dalam alfabet Latin. Dalam bahasa Indonesia, huruf ini disebut ha. Dalam bahasa Inggris, huruf ini disebut aitch (jamak: aitches), dibaca / eɪtʃ / atau / heɪtʃ /. Huruf ini biasanya melambangkan konsonan desis celah suara nirsuara.


Sejarah

Huruf Semitik ח (Het) kemungkinan besar melambangkan konsonan desis hulu kerongkongan tak bersuara (/ h /). Bentuk huruf ini mungkin berarti pagar. Alfabet Yunani H awal berbunyi / h /, tetapi lama-kelamaan menjadi huruf vokal eta (Η, η) yang berbunyi / ɛ ː / (dalam bahasa Yunani modern, fonem ini bergabung dengan / i /).


Hieroglif Mesir 
"pagar" →
Proto-Semit HetFenisia het
  
Yunani Kuno eta
Yunani Modern eta
Etruska 
 
Latin Modern 
H

Bahasa Etruska dan bahasa Latin pernah memiliki fonem / h /, namum hampir semua rumpun bahasa Roman kehilangan suara itu. Kemudian bahasa Rumania meminjam fonem / h / dari bahasa-bahasa Slavia di dekatnya, dan bahasa Spanyol mengembangkan bunyi / h / sekunder dari / f / sebelum kehilangan suara itu lagi, sementara beberapa dialek bahasa Spanyol memakai / h / sebagai alofon / s / di beberapa wilayah yang memakai bahasa tersebut. 

Huruf I Huruf I atau i adalah huruf ke- 9 dalam alfabet Latin. Dalam bahasa Inggris huruf ini dibaca [aɪ]. I merupakan lambang angka 1 (satu) dalam angka Romawi.



Sejarah

Dalam rumpun bahasa Semit, huruf Yôdh mungkin berasal dari suatu piktogram untuk "lengan" dan "tangan", berasal dari hieroglif serupa yang membawa nilai konsonan desis hulu kerongkongan bersuara (/ ʕ /) dalam bahasa Mesir, tetapi dialihkan ke / j / (seperti y pada kata "ya") oleh orang-orang Semit, karena kata Semit untuk "lengan" diawali dengan bunyi itu. Huruf ini juga bisa digunakan untuk suara vokal / i /, terutama dalam kata asing.


Hieroglif Mesir 
"lengan" →
Proto-Semit yad Fenisia yodh Yunani Kuno iota 
Etruska 
Latin Modern 
I

Orang Yunani menerima suatu bentuk yodh Fenisia ini sebagai huruf iota (Ι, ι) mereka untuk bunyi vokal / i /, begitu juga dalam alfabet Miring Kuno. Dalam bahasa Latin (seperti dalam bahasa Yunani Modern), huruf ini juga dipakai untuk bunyi konsonan / j /. Huruf J modern mulanya merupakan bentuk variasi untuk huruf ini, dan keduanya dapat digunakan bergantian untuk vokal dan konsonan, sehingga akhirnya dibedakan pada abad ke-16. 

Huruf J J adalah huruf kesepuluh dalam alfabet Latin, dan huruf terakhir yang ditambahkan dalam kalangan 26 huruf. Namanya adalah je, dibaca [dʒeɪ].


Sejarah

J  asalnya merupakan bentuk lain huruf I, sedangkan huruf I berasal dari huruf iota Yunani. Bentuk huruf kecil j digunakan pada Abad Pertengahan untuk mengakhiri angka Romawi menggantikan i.    


Yunani Kuno iota Yunani Modern iota 
Etruska 
 
Latin Kuno 
I   
Latin Modern 
J

J asalnya merupakan bentuk lain huruf I, sedangkan huruf I berasal dari huruf iota Yunani. Bentuk huruf kecil j digunakan pada Abad Pertengahan untuk mengakhiri angka Romawi menggantikan i. Penggunaan yang berbeda diawali dalam bahasa Jerman Hulu Pertengahan. Petrus Ramus (d. 1572) menjadi orang pertama yang secara jelas membedakan I dan J sebagai lambang bunyi yang berbeda. Mulanya, kedua huruf I dan J melambangkan / i /, / i ː /, dan / j /; tetapi rumpun bahasa Roman mengembangkan bunyi-bunyi baru (dari / j / dan / g /) yang menjadi bunyi-bunyi lambang I dan J; oleh itu, J bahasa Inggris (dari J Perancis, dan akhirnya dipakai dalam Indonesia) agak berbeda bunyinya dari [j]. 

Huruf K K adalah huruf ke-11 dalam alfabet Latin. Dalam bahasa Indonesia, namanya disebut ka; dalam bahasa Inggris disebut kay, dibaca [kɛɪ].



Sejarah

Huruf K berasal dari huruf Κ (kapa) Yunani, yang diambil dari huruf kap dalam abjad bahasa Semit, yang berbentuk lambang tangan terbuka. Huruf kap itu mungkin dipinjam oleh kaum Semit yang tinggal di Mesir dari hieroglif bentuk "tangan" yang melambangkan bunyi / d / pada kata "tangan" dalam bahasa Mesir Kuno, yaitu drt. Orang Semit mengatur bunyi / k / untuk huruf ini karena kata "tangan" dalam bahasa mereka diawali dengan bunyi tersebut. Pada prasasti kuno berbahasa Latin, huruf C, K dan Q dipakai untuk melambangkan bunyi / k / dan / g / (yang tidak dibedakan dalam penulisan). Dalam hal ini, Q digunakan untuk melambangkan / k / atau / g / sebelum vokal bulat, K sebelum / a /, dan C selain itu. Kemudian, penggunaan C (dan G sebagai variannya) menggantikan banyak penggunaan K dan Q. K tersisa hanya pada beberapa ejaan yang ketinggalan zaman seperti Kalendae, 'hari pertama tiap bulan'.




Hieroglif Mesir 
"tangan" →
Proto-Semit kap 
Fenisia kaf Yunani Kuno kapa 
Etruska 
 
Latin Modern 
K

Ketika kata-kata Yunani diserap ke dalam bahasa Latin, huruf Kapa diubah menjadi C, dengan beberapa pengecualian seperti praenomen Kaeso. Beberapa kata dari alfabet lainnya juga dialihaksarakan menjadi C. Maka dari itu, rumpun bahasa Roman hanya mengandung K pada kata-kata dari bahasa lain. Rumpun bahasa Keltik juga cenderung menggunakan C dari K, dan pengaruh tersebut terbawa ke dalam bahasa Inggris Kuno. Di masa kini, bahasa Inggris adalah satu-satunya bahasa dari rumpun bahasa Germanik yang giat menggunakan huruf C keras di samping huruf K (meskipun bahasa Belanda juga memakai huruf C dalam kata pinjaman bahasa Latin serta mengikuti hukum pembedaan "lembut keras" dalam kata-kata tersebut, begitu pula bahasa Perancis dan Inggris, tetapi tidak untuk kosakata Belanda asli). Beberapa ahli bahasa Inggris cenderung membalikkan proses alih aksara Latin untuk kata- kata khas Yunani, misalnya mengeja Hecate menjadi "Hekate". Penulisan bahasa-bahasa yang tidak memiliki sistem tulisan sendiri sehingga menggunakan alfabet Latin biasanya memilih K untuk bunyi / k /, seperti Kwakiutl.Dalam Alfabet Fonetik Internasional, [k] merupakan lambang konsonan letup langit-langit belakang nirsuara. Beberapa karakter lain juga menunjukkan karakter bersudut tajam yang menandakan bunyi / k / atau suku kata yang dimulai dengan bunyi / k /, misalnya: ك Arab, כ Ibrani, dan ㄱ Korea. Hubungan fonetik-visual seperti ini pernah dikaji oleh Wolfgang Köhler. Namun, banyak juga contoh-contoh huruf berbunyi / k /, seperti ค dalam tulisan Thai dan Ք dalam abjad Armenia. 

Huruf L L adalah huruf ke-12 dalam alfabet Latin. Huruf ini disebut el, dibaca [ɛl].



Sejarah

Huruf L berasal dari bentuk huruf Semitik "tongkat" atau "kambing" yang mewakili bunyi / l /. Ini mungkin berdasarkan hieroglif Mesir yang telah diadaptasi oleh orang Semit untuk tujuan penulisan.


Hieroglif Mesir 
"tangan" →
Proto-Semitlamd Fenisialamd 
Yunani Kunolambda 
Yunani Modernlambda 
Etruska 
 
Latin Kuno 
 
Latin Modern 
L

Huruf Yunani Lambda Λ (huruf besar) atau λ (huruf kecil), yang juga merupakan huruf Etruska dan Latin, mewakili suara yang sama sebagaimana huruf Semitik tersebut. 
Huruf M M adalah huruf Latin modern yang ke-13. Namanya em, dibaca [ɛm].



Sejarah

Bentuk huruf M berasal dari huruf Fenisia Mem, melalui huruf Yunani Mu (Μ, μ). Huruf Mem Semitik kemungkinan besar melambangkan air.


Hieroglif Mesir 
"air" →
Proto-Semitmem Fenisiamem 
Yunani Kunomu 
Yunani Modernmu 
Etruska 
 
Latin Kuno 
 
Latin Modern 
M

Diketahui bahwa masyarakat Semit yang hidup di Mesir sekitar 2000 SM mengadaptasi hierogif "air" yang mulanya melambangkan konsonan sengau rongga-gigi (/ n /), karena kata Mesir untuk "air" berbunyi "nt". Simbol itu dijadikan huruf M dalam bahasa Semit, karena kata air dalam bahasa mereka diawali dengan bunyi tersebut.

Huruf N N adalah huruf Latin yang ke-14. Namanya disebut en (dibaca [ɛn]).



Sejarah

Salah satu hieroglif berupa ular di Mesir Kuno digunakan untuk melambangkan bunyi huruf J seperti dalam kata "jari", karena kata Mesir untuk "ular" berbunyi djet.


Hieroglif Mesir 
"ular" →
Proto-Semit naḥšFenisia nun
Yunani Kuno nu
Yunani Modern ni
Etruska 
 
Latin Modern 
N

Dipercaya bahwa bangsa Semit di Mesir menyesuaikan hieroglif untuk menciptakan abjad pertama, dan maka dari itu menggunakan lambang ular untuk bunyi / n /, karena kata "ular" dalam bahasa mereka mungkin sekali diawali dengan konsonan tersebut, namun nama huruf ini dalam abjad Fenisia, Ibrani , Aramea dan Arab berbunyi nun, yaitu "ikan" dalam beberapa bahasa tersebut. Huruf ini berbunyi / n / , seperti dalam alfabet Yunani, Etruska, Latin dan semua bahasa di masa sekarang. 

Huruf O O adalah huruf Latin modern yang ke-15, disebut o. Dalam bahasa Indonesia dibaca [o], sedangkan dalam bahasa Inggris diucapkan sebagai diftong [oʊ], bentuk jamaknya oes. Biasanya huruf ini melambangkan bunyi vokal belakang setengah tertutup bulat. Dalam beberapa bahasa, ortografi masing-masing bahasa membuat nilai fonetik huruf ini berbeda-beda, seperti "eo" dalam bahasa Korea untuk suara [ʌ] (vokal belakang setengah terbuka takbulat); "oe" dalam bahasa Belanda untuk bunyi [u] ( vokal belakang tertutup bulat).

 Sejarah

Huruf O berasal dari huruf Semitik `Ayin (mata) yang melambangkan konsonan, kemungkinan konsonan desis hulu kerongkongan bersuara (ʕ), yang juga dilambangkan oleh huruf Arab ع (` Ayn). Huruf Semitik dalam bentuk aslinya nampaknya diilhami oleh bentuk hieroglif Mesir untuk "mata".


Hieroglif Mesir 
"mata" →
Proto-Semitik'en Fenisia ain
Yunani Kunoomikron 
Yunani Modernomikron 
Etruska 
 
Latin Modern 
O

Yunani mengadakan inovasi huruf; oleh sebab adanya konsonan hulu kerongkongan, maka mereka meminjam huruf ini menjadi huruf omikron untuk melambangkan bunyi / o /, yaitu suara yang kemudian ditetapkan untuk huruf ini dalam bahasa Etruska dan Latin. Dalam tulisan Yunani, ada huruf yang berbeda untuk membedakan bunyi o panjang (Omega, "O besar") dengan o kecil (Omikron, "o kecil"). 

Huruf P P adalah huruf Latin modern yang ke-16. Dalam bahasa Indonesia disebut pe, sedangkan dalam bahasa Inggris disebut pee (dibaca [pi ː]).

Sejarah

Huruf P berasal dari huruf Proto-Semit Pi't yang berarti "mulut", yang juga menurunkan huruf Fenisia pe, serta huruf-huruf Yunani (Pi) dan Etruska yang berkembang dari huruf Fenisia tersebut. Semuanya melambangkan bunyi / p /, yaitu konsonan letup dwibibir nirsuara.


Proto-Semit pi't Fenisia pe Yunani Kuno pi 
Yunani Modern pi 
Etruska 
 
Latin Modern 
P

Bangsa Etruska mengadopsi alfabet Yunani dan mengubah beberapa bentuk hurufnya, termasuk Pi yang melambangkan bunyi / p /. Lengkungan pada huruf P Etruska tidak tertutup, dan pada beberapa variasi, lengkungan itu justru tertutup; variasi bentuk tertutup tersebut juga merupakan lambang bunyi / r / dalam alfabet Etruska. Bangsa Romawi mengadaptasinya dan mengatur bentuknya sebagai P, sehingga menyerupai bentuk huruf R dalam alfabet Etruska dan huruf Ro dalam alfabet Yunani. Meskipun demikian, nilai bunyinya berbeda. Untuk melambangkan bunyi / r /, akhirnya bentuk varian dari Ro dengan garis diagonal ( ) diadaptasi menjadi huruf R oleh bangsa Romawi. 

Huruf Q Q adalah huruf ke-17 dalam alfabet Latin. Dalam bahasa Indonesia, namanya ki; dalam bahasa Inggris disebut cue (dibaca [kju ː]) sedangkan dalam Bahasa Melayu adalah kyu.


Sejarah


Hiroglif Mesir WJ 
Fenisia 
 
Etruska 
 
Yunan Qoppa 
Romawi 
Q

Nilai bunyi huruf Semitik Qôp (mungkin pada mulanya qaw 'gulungan tali', dan mungkin berdasarkan pada hieroglif Mesir) adalah / q / (konsonan letup tekak nirsuara), suatu suara biasa untuk rumpun bahasa Semit, tetapi tidak ditemukan dalam bahasa Inggris atau Indo- Eropa lainnya. Dalam bahasa Yunani, tanda itu diserap sebagai Qoppa Ϙ, mungkin melambangkan beberapa konsonan letup langit-langit terbibirkan, di antaranya adalah / k ʷ / dan / k ʷ ʰ /. Hasil dari pergeseran bunyi di kemudian hari, membuat bunyi-bunyi ini dalam bahasa Yunani berubah menjadi / p / dan / p ʰ /. Oleh karena itu, Qoppa telah diubah ke dalam dua huruf: Qoppa, yang hanya untuk jumlah; dan Phi Φ yang digunakan untuk konsonan aspirasi / p ʰ / dan disebut sebagai / f / dalam Bahasa Yunani Modern. Orang Etruska menggunakan Q bersamaan dengan V untuk mewakili / k ʷ /. 

Huruf R R adalah huruf Latin modern yang ke-18. Dalam bahasa Indonesia disebut er, dibaca [ɛr], sedangkan dalam bahasa Inggris disebut ar (dibaca [ɑr]).


Sejarah

Bentuk huruf Semitik aslinya mungkin diilhami dari hieroglif Mesir yang berarti "kepala", disebut tp dalam bahasa Mesir Kuno, tetapi dipinjam oleh orang Semit untuk lambang bunyi / r / karena dalam bahasa mereka, kata "kepala" berbunyi Res (akhirnya menjadi nama hurufnya) . Huruf tersebut berkembang menjadi Ρ ῥῶ (Rho) Yunani dan R Latin. Kemungkinan beberapa bentuk huruf tersebut dalam bahasa Etruska dan Yunani Barat dibubuhi satu garis lagi agar berbeda bentuknya dari huruf P sekarang.


Hieroglif "kepala" →Proto-Semit ra 's Fenisia rosh
Yunani Kuno ro
Yunani Modernro 
Etruska 
 
Latin Modern 
R

Bangsa Romawi mengadopsi huruf P Etruska menjadi bentuk P yang sekarang, sedangkan bentuk P mirip sekali dengan huruf R dalam alfabet Etruska dan Yunani. Untuk membedakannya, maka bangsa Romawi menciptakan huruf R yang mirip dengan variasi huruf R dalam alfabet Etruska dan ro dalam alfabet Yunani, yaitu dengan garis diagonal di bawah lekukannya. 

Huruf S S adalah huruf ke-19 dalam alfabet Latin. Huruf ini disebut es, dibaca [ɛs].


Sejarah

Huruf syin ("gigi") dari rumpun bahasa Semit pernah melambangkan konsonan desis pascarongga-gigi nirsuara / ʃ / (seperti dalam kata Persyaratan). Bentuk aslinya mungkin menggambarkan gigi atau buah dada. Bahasa Yunani tidak mengandung bunyi / ʃ / tersebut, maka huruf sigma (Σ) digunakan untuk mewakili / s /. Nama "sigma" barangkali diambil dari huruf Semitik "Sâmek" (ikan; tulang belakang) dan bukan "Sin". Dalam bahasa Etruska dan Latin, nilai bunyi [s] diatur, dan hanya dalam bahasa modernlah huruf ini dipakai untuk mewakili suara lain, seperti konsonan desis pascarongga-gigi nirsuara [ʃ] dalam bahasa Hongaria dan Jerman (sebelum p, t), atau konsonan desis rongga-gigi bersuara [z] dalam bahasa Inggris (rise, 'bangun'), Perancis (lisez, 'baca') dan Jerman (lisensi, 'membaca').


Proto-Semitsims Fenisia shin
Yunani Kunosigma 
Yunani Modernsigma 
Etruska 
 
Latin Kuno 
 
Latin Modern 
S

Pada masa dahulu, suatu bentuk alternatif untuk s, yaitu s (s panjang), digunakan pada awal atau pertengahan kata dalam bahasa-bahasa Eropa tertentu; bentuk terkininya, s spendek, digunakan pada akhir kata. Contonhya, sinfulness ("penuh dosa") ditulis sinfulness menggunakan s panjang itu.Penggunaan long s merosot menjelang awal abad ke-19, untuk mengurangi kebingungan dengan huruf f kecil. Ligatur "ss" (atau "sz") dalam bahasa Jerman menjadi ess-tsett (ß).

Huruf T T adalah huruf Latin modern yang ke-20. Dalam bahasa Indonesia disebut te; dalam bahasa Inggris disebut tee, dibaca [ti ː]. Huruf ini merupakan huruf konsonan yang paling sering digunakan dalam bahasa Inggris.


Sejarah


Proto-Semit taw Fenisia tau 
Yunani Kuno tau 
Yunani Modern tau 
Etruska 
 
Latin Modern 
S

Taw merupakan huruf terakhir abjad Semitik Barat dan Ibrani, kemungkinan mencerminkan silang atau salib. Nilai bunyi huruf Taw, Tαυ (Tau) Yunani, dan T Miring Kuno dan Romawi sama, yaitu menandai fonem / t /; begitu juga dengan bentuk dasarnya dalam semua abjad-abjad tersebut. 

Huruf U U adalah huruf Latin modern yang ke-21.Dalam bahasa Inggris, huruf ini disebut u atau you, dibaca [ju ː]; bentuk jamaknya ues. Biasanya melambangkan vokal belakang tertutup bulat ([u]), menggantikan fungsi huruf V yang beralih sebagai lambang konsonan desis bibir-gigi nirsuara.


Sejarah


Yunani Kuno upsilon Yunani Modern upsilon 
Etruska 
 
Latin Kuno 
U   
Latin Modern 
U

Pada akhir Abad Pertengahan, timbul 2 bentuk huruf yaitu V dan U, keduanya dipakai untuk bunyi / u / dan / v /. Bentuk V yang meruncing ditulis di awal kata, sedangkan bentuk U bundar dipakai di tengah atau akhir kata tanpa memandang bunyinya. Oleh karena itu, kata-kata seperti valour dan excuse sama seperti ejaan zaman sekarang, tetapi kata memiliki dan upon juga ditulis haue dan vpon . Akhirnya pada tahun 1700-an, agar bunyi konsonan dan vokal dipisahkan, bentuk V menandakan konsonan sementara bentuk U untuk vokal, maka lahirlah huruf U modern. Pada masa inilah tercipta huruf besar U; sebelum ini selalu dipakai huruf besar V. Mulanya, sejak huruf U dan V dijadikan huruf yang terpisah, V mendahului U dalam urutan abjad, namun kini terjadi hal sebaliknya. Huruf u dimasukkan dalam abjad Romawi oleh Petrus Ramus pada abad ke-16. 

Huruf V V adalah huruf Latin modern yang ke-22. Dalam bahasa Indonesia, huruf ini disebut fe, sedangkan dalam bahasa Inggris disebut vee, dibaca [vi ː]. Awalnya huruf ini melambangkan bunyi [u], vokal belakang tertutup bulat, namun vokal tersebut menjadi huruf tersendiri (U), sementara V menjadi lambang bunyi [v] (konsonan desis bibir-gigi bersuara). Dalam bahasa Indonesia sering dilafalkan seperti [f] (konsonan desis bibir-gigi tak bersuara).

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Frimor Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea